Susu Formula Vs Gizi Anak

  • alita merupakan kelompok masyarakat yang rentan gizi. Masalah gizi pada anak masih menjadi masalah di beberapa negara. Tercatat 1 dari 3 anak di dunia meninggal setiap tahun akibat buruknya kualitas gizi. Salah satu riset menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal setiap tahun karena masalah kekurangan gizi dan buruknya kualitas makanan, didukung pula oleh kekurangan gizi selama masih di dalam kandungan. Pada kelompok tersebut mengalami siklus pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan zat-zat gizi yang lebih besar dari kelompok umur yang lain sehingga balita paling mudah menderita kelainan gizi.

    Pemberian nutrisi pada bayi dan balita yang baik akan mempengaruhi status gizi. Status gizi kurang atau lebih akan menentukan derajat kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan balita. Status gizi buruk akan memberikan dampak bayi dan balita menjadi cepat lelah, lemas, letih, lesu, terjadi gangguan perkembangan otak, tingkat kecerdasan berkurang, kondisi fisik lemah, rentan menderita berbagai penyakit seperti ISPA, diare, TBC, hepatitis, dan jika tidak ditangani akan menyebabkan kematian, begitu pula dengan status gizi lebih jika tidak ditangani akan menyebabkan obesitas serta mengganggu pertumbuhan dan perkembangan.

    Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda (double burden). Artinya, masalah gizi kurang (underwieght) belum teratasi sepenuhnya, sementara muncul masalah gizi lebih (overwight). Kejadian overwight terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa.

    Dalam sebuah ulasan disampaikan bahwa kelebihan maupun kekurangan asupan zat gizi pada balita dapat mempengaruhi kesehatannya. Faktor penyebab masalah gizi di bagi menjadi dua yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung yang mempengaruhi gizi balita adalah salah satunya asupan makan atau minum balita, sedangkan faktor tidak langsung yang mempengaruhi gizi balita diataranya ketersediaan pangan dan lain-lain.

    Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa adanya peningkatan risiko gizi lebih pada bayi yang diberikan susu formula daripada yang diberi ASI. Hal tersebut dapat terjadi karena kandungan protein dan mineral dari susu formula melebihi angka kecukupan untuk bayi manusia, sehingga bayi memperoleh asupan makanan berlebih. Pemberian susu formula pada usia bayi di bawah 6 bulan akan berdampak pada status gizi bayi. Jika pemberian susu formula terlalu encer maka akan mengakibatkan asupan gizi untuk tubuh bayi kurang, dan apabila pemberian susu formula terlalu kental dan banyak maka dapat mengakibatkan gizi lebih.

    Menurut WHO yang dikutip dalam sebuah tulisan menyampaikan bahwa susu formula adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh bayi. Susu formula yang baik tidak menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang air besar. Baik tenaga kesehatan maupun masyarakat luas masih banyak yang berpikir bahwa susu formula memiliki kualitas gizi yang sama baiknya atau bahkan lebih baik dari ASI, sehingga sering kita dengar, sebagian masyarakat mengatakan dengan bangga bahwa buah hatinya minum susu dengan merk tertentu dimana semakin mahal harga sebuah produk susu formula maka semakin tinggi derajat orangtua di mata masyarakat. Faktanya ternyata susu formula memiliki risiko tinggi terhadap masa depan kesehatan anak manusia. Bukan sekedar risiko jangka pendek dan menengah, namun yang perlu diperhatikan adalah risiko jangka panjang dari penggunaan susu formula.

    Salah satu upaya dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak adalah pemberian susu formula. Adanya kebutuhan dan ekspektasi yang besar dari orang tua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak melalui konsums susu merupakan suatu prospek usah yang potensial bagi industri. Akibatnya industri susu merupakan salah satu industri besar di negara-negara yang memiliki jumlah penduduk anak-anak yang tinggi, seperti di Indonesia.

    Dalam sebuah ulasan yang lainnya menyampaikan bahwa susu formula banyak dipilih ibu yang bekerja sebagai makanan pendamping  ASI bahkan pengganti ASI dikarenakan susu formula lebih  praktis. Konstipasi dapat terjadi karena ibu memberikan makanan padat atau susu formula pada umur  yang terlalu dini, sehingga bayi mengalami gangguan saluran Pencernaan seperti konstipasi. Sistem pencernaan bayi belum siap untuk menerima susu formula atau makanan padat lainnya.

    Susu formula adalah susu sapi yang telah diproses agar lebih mudah dicerna oleh balita. Gangguan akibat ketidakcocokan susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari 8 jam. Pada reaksi lambat setelah 8 jam atau kadang setelah minum susu 5 atau 7 hari. Tanda dan gejala ketidakcocokan susu formula atau alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan tersebut mengganggu semua organ terutama pencernaan, kulit, saluran napas dan organ lainnya.

    Susu formula menurut WHO yaitu susu yang diproduksi oleh industri untuk keperluan asupan gizi yang diperlukan bayi. Susu formula kebanyakan tersedia dalam bentuk bubuk. Perlu dipahami susu cair steril sedangkan susu formula tidak steril. Pemberian susu formula diindikasikan untuk bayi yang karena sesuatu hal tidak mendapatkan ASI atau sebagai tambahan jika produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Penggunaan susu formula ini sebaiknya meminta nasehat kepada petugas kesehatan agar penggunaannya tepat, sehingga status gizi anak dapat terukur dalam jangka waktu tertentu.

    Status gizi sangat penting untuk diketahui guna menentukan ada tidaknya gangguan gizi. Gangguan gizi yang terjadi pada bayi dan balita mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, baik pada masa balita maupun pada masa berikutnya sehingga perlu mendapatkan perhatian karena balita adalah generasi bangsa. Status gizi balita dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung yang mempengaruhi status gizi balita adalah penyakit infeksi dan asupan makan balita. Sedangkan faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi balita adalah salah satunya adalah konsumsi susu formula.

    Keadaan gizi kurang pada anak-anak mempunyai dampak pada keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan yang sulit disembuhkan. Oleh karena itu anak yang gizi kurang, kemampuan untuk belajar dan bekerja serta bersikap akan lebih terbatas dibandingkan dengan anak yang normal.

    Beberapa penelitian menjelaskan dampak jangka pendek dari kasus gizi kurang adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara serta gangguan perkembangan yang lain, sedangkan dampak jangka panjang dari kasus gizi kurang adalah penurunan skor IQ, penurunan perkembangan kognitif, gangguan pusat perhatian, serta gangguan penurunan rasa percaya diri. Oleh karena itu kasus gizi kurang apabila tidak dikelola dengan baik akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan mengancam hilangnya generasi penerus bangsa.

    Dalam sebuah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 mengatakan bahwa, semakin bertambahnya usia, kebutuhan bayi akan zat gizi juga semakin meningkat. Zat gizi ini penting untuk proses tumbuh kembang bayi dan balita. Karena seiring berjalannya waktu, ASI yang dihasilkan ibu kurang optimal lagi dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. ASI masih harus diberikan bersama dengan pemberian MPASI, karena ASI masih memenuhi kebutuhan gizi anak sekitar 80 persen pada bayi usia 6-9 bulan, 60 persen untuk bayi usia 9-12 bulan, dan dianjurkan tetap diberikan hingga bayi berusia 2 tahun.

    Tujuan pemberian MPASI pada bayi bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga penting untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan bayi dalam menerima berbagai macam makanan yang rasa, bentuk, dan teksturnya bervariasi, serta membantu perkembangan oromotor bayi yaitu dalam hal mengunyah dan menelan. Pemberian MP-ASI yang cukup, baik kualitas dan kuantitasnya dapat memberikan jaminan terhadap pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak selanjutnya. Terdapat beberapa syarat universal yang harus dipenuhi MP- ASI antara lain adalah mempunyai komposisi sesuai kebutuhan, baik zat gizi makro (energi, protein dan lemak) maupun zat gizi mikro (vitamin dan mineral).

    Selain gizi baik balita yang mengkonsumsi susu formula juga memiliki gizi lebih, dalam sebuah ulasan menyebutkan adanya peningkatan risiko gizi lebih pada bayi yang diberikan susu formula daripada yang diberi ASI. Hal tersebut dapat terjadi karena kandungan protein dan mineral dari susu formula melebihi angka kecukupan untuk bayi manusia, sehingga bayi memperoleh asupan makanan berlebih. Gizi lebih yang terjadi pada bayi akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan gerak motorik kasar dan halus bayi, yang mengakibatkan bayi tidak dapat melakukan gerakan yang seharusnya sudah dapat dia lakukan di usia tersebut.

    Status gizi pada balita perlu mendapat perhatian yang serius dari orang tua, karena kekurangan gizi pada balita akan menyebabkan kerusakan yang irreversibel (tidak dapat dipulihkan). Ukuran tubuh yang pendek merupakan salah satu indikator kekurangan gizi yang berkepanjangan pada balita. Kekurangan gizi yang lebih fatal akan berdampak pada perkembangan otak. Status gizi balita dapat diketahui dengan cara melihat berat badan, tinggi badan.

     

    Source : https://yankes.kemkes.go.id/

    Referensi   :

    Andriani. 2014. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta Kencana Prenada Media Grup.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI : Pusat Data Dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

    Sasmiati, Eka Fitriyanti. Hubungan Konsumsi Susu Formula dengan Status Gizi Balita di Puskesmas Piyungan Bantul Yogyakarta. Program Studi Bidan Pendidik Jenjang Diploma IV Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

    https://ahligizi.id/blog/2021/06/04/susu-formula-dapat-menyebabkan-kegemukan-pada-balita/