Kasus Diabetes Anak Di Indonesia

  • Hari Diabetes Nasional kita peringati setiap tanggal 12 Juli. Peringatan ini  merupakan upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kadar gula darah dalam tubuh.

    Pada bulan Januari 2023, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) mengeluarkan suatu data penelitian sampai tanggal 31 Januari 2023 bahwa prevalensi kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat pada Januari 2023. Jumlah tersebut dibandingkan dengan jumlah diabetes anak tahun 2010 atau 0,028 per 100.000 anak dan 0,004 per 100.000 jiwa pada 2000.

    Kasus diabetes pada anak mencapai 2 per 100.000 jiwa per Januari 2023. Pada anak, kasus diabetes yang banyak ditemukan adalah tipe 1. Sedangkan, diabetes tipe 2 sebanyak 5-10 persen dari keseluruhan kasus diabetes anak. 

    IDAI mencatat, ada 1.645 anak dengan diabetes melitus yang tersebar di 13 kota di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Denpasar, Palembang, Padang, Medan, Makassar, dan Manado. Hampir 60% penderitanya adalah anak perempuan. Sedangkan berdasarkan usianya, sebanyak 46?rusia 10-14 tahun, dan 31?rusia 14 tahun ke atas. Kondisi ini apabila dibiarkan maka generasi penerus bangsa akan mengalami angka kesakitan yang tinggi yang berimbas pada tingkat produktivitas negara dan bangsa Indonesia di masa mendatang. Apalagi berdasarkan jenis kelamin bahwa penderita diabetes (diabetisi) persentase paling banyak adalah perempuan, maka tidak dapat dipungkiri perempuan diabetes akan melahirkan bayi yang kelebihan berat badan di atas 4 kg dan memiliki genetik penyakit diabetes yang dominan.    

    Banyak faktor yang menyebabkan prevalensi kasus diabetes pada anak meningkat dan ada dua teori yang muncul dengan meningkatnya angka diabetes anak. Pendapat pertama bahwa anak yang mengalami diabetes tersebut bukan digolongkan pada golongan diabetes tipe 1 (Juvenille Diabetes) karena anak yang menderita diabetes di awali dulu dengan metabolic syndrome seperti kelebihan berat badan yang mengakibatkan resistensi insulin atau kekurangan insulin, jadi kronologisnya tidak seperti kasus diabetes tipe 1    atau sering dikenal juga dengan diabetes tipe 1 adalah kondisi di mana tubuh tidak bisa menghasilkan insulin dengan cukup karena adanya kerusakan pada sel pankreas. Jenis diabetes ini merupakan kelainan autoimun dan seringnya diderita oleh anak-anak dan remaja.

    Sedangkan pendapat ke 2 lebih melihat pada umur mereka, tidak melihat peenyebab dari diabetes itu sendiri, yang penting ketika penderita diabetes tersebut masih berusia di bawah 18 tahun maka tergolong diabetes anak tipe 1.  

    Saya pribadi lebih sependapat dengan teori yang pertama dengan kata lain kasus diabetes yang banyak terjadi pada anak bukan sekonyong konyong adanya kerusakan pankreas (atau tergolong tipe 1) tapi mereka dimulai dengan sindrome metabolik berupa kelebihan berat dan yang mengakibatkan resistensi insulin atau kekurangan insulin.

    Memang banyak faktor yang bisa membuat anak terkena diabetes, salah satu yang menjadi sorotan adalah pola makan dan aktivitas anak seperti jajanan anak kekinian yang tidak jelas mengenai nilai gizi atau nutrisinya. Sebut saja minuman soda, minuman boba dengan kadar gula yang tinggi, pisang cokelat lumer, dan jajanan lainnya yang bisa jadi mengandung tinggi gula atau bahan bakunya adalaah tepung terigu (Indeks Glikemik dan kalorinya tinggi).

    Maka Kondisi di atas muncul bisa terjadi disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan anak atau remaja yang kurang bahkan tidak  sehat sehingga menjadi penyebab diabetes pada anak atau remaja.

    Meskipun faktor genetik atau keturunan juga bisa berpengaruh akan tetapi kecil sekali dan tidak dapat dipungkiri. Daripada kita mempermasalahkan faktor genetik saya lebih terfokus pada pola asuh atau pola makan yang diciptakan oleh orang tua dalam hal ini Ibu, karena sesuai Hadiss Nabi Muhammad SAW bahwa : Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim). Artinya bahwa anak dilahirkan Fitrah/bersih, maka semuanya tergantung orang tuanya, begitu pola dengan pola hidup atau pola makanan seoraang aanak tergantung didikan orang tuanya. Kondisi aanak menjaadi diabetes di awali dengan kelebihan bert badan yang berujung pada obesitas, bukanlah salah Si Anak itu sendiri lebih banyak peran orang tua yang mendidik anak tersebut.   

    Faktor yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada remaja antara lain sebagai berikut :

    • · Gemar mengonsumsi asupan manis dan makanan siap saji.
    • · Menjalani gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan suka mengongkonsumi minuman beralkohol.
    • · Memiliki kadar kolesterol tinggi.
    • · Kelebihan berat badan atau obesitas.
    • · Memiliki riwayat diabetes gestasional (Ibunya).
    • · Didiagnosis pradiabetes.
    • · Memiliki anggota keluarga dengan diabetes.

    Bila kita melihat factor factor meningkatnya risiko DM type dua pada remaja di atas yang paling dominan adalah didahului oleh gemar mengkonsumsi makanan manis dan makanan siap saji, gaya hidup yang tidak sehat (rokok & alcohol) secara perlahan namun pasti kadar kolesterol darah tinggi, yang ditandai oleh kelebihan berat badan. Meskipun ada keturunan (factor genetic) menderita diabetes maka seharusnya kita sadar bahwa nanti akan menderita DM, maka sebaiknya kita menjaga pola makan semenjak anak anak. Bila kita diagnosis prediabetes bukan berarti kita  atau anak kita sudah mengidap diabetes. Ini artinya gula darah Anda sudah tergolong tinggi dan di atas batas normal, tapi belum terlalu tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes. Maka itu merupakan suatu Alarm/ sinyal bahwa kita harus menjaga pola makan kita, Jika dibiarkan terus, Anda bisa terkena diabetes tipe 2.

    Sebuah penelitian oleh Treatment Options for Type 2 Diabetes in Adolescents and Youth (TODAY), mengatakan bahwa penyakit diabetes lebih berkembang cepat pada remaja dibandingkan dengan orang dewasa atau orang lanjut usia. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2752327)

    Diabetes tipe 2 pada remaja, umumnya dengan cepat memunculkan komplikasi penyakit, seperti penyakit jantung dan ginjal. Temuan yang diterbitkan pada jurnal edisi khusus Diabetes Care ini, pada dasarnya menunjukkan efek buruk yang bisa terjadi pada remaja pengidap diabetes. Meskipun para remaja ini sudah mendapatkan perawatan optimal dan pantauan yang ketat dari tim ahli diabetes.

    Ditemukan bahwa pada peserta penderita diabetes yang berumur 10—17 tahun, obat metformin tidak ampuh menurunkan kadar gula darah mereka. Perlu diketahui kalau metformin adalah obat yang biasanya digunakan sebagai penanganan utama diabetes tipe 2 pada orang dewasa.

    Namun sayangnya, metformin tidak bisa memberikan pengaruh baik untuk mengatasi diabetes pada remaja. Setengah dari remaja yang memakai obat metformin tidak dapat membuat gula darah mereka stabil pada kisaran target normal, dan pada akhirnya harus mulai menggunakan obat insulin.

    Hal inilah yang menjadi peringatan penting bahwa diabetes yang dialami di usia muda lebih berbahaya serta sulit untuk ditangani dan yang perlu dikhawatirkan adalah masa depan anak atau remaja tersebut masih Panjang, bisa kita bayangkan

    Remaja yang baru saja didiagnosis menderita diabetes mungkin khawatir terhadap kondisi mereka dan reaksi orang lain. Akibatnya, mereka mungkin juga memiliki ketakutan untuk kembali ke sekolah. Oleh karena itu, remaja dengan diabetes akan membutuhkan bantuan dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya untuk terbiasa menjaga kondisi diabetes mereka.

    Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan remaja penderita diabetes untuk mengendalikan diabetes.

    • · Pemantauan kadar glukosa di dalam darah.
    • · Menyuntikkan insulin.
    • · Belajar menghitung kandungan karbohidrat (Carbohydrat Accounting) di dalam makanan dan minuman.
    • · Mengunjungi dokter secara berkala untuk memeriksakan kondisi kesehatan, termasuk diabetesnya.

     

    Source : https://yankes.kemkes.go.id/