Kenali Mpasi Dengan Metode BLW

  • Fenomena pemberian MPASI dengan metode baby led weaning (BLW) sedang marak di Indonesia. Apakah metode ini bisa dilakukan pada anak Anda?

    Penggunaan metode Baby Led Weaning (BLW) di Indonesia menjadi tren kembali setelah musisi Andien menggunakan metode ini untuk anaknya Kawa (5,5 bulan). Apakah semua bayi bisa diperkenalkan metode ini? Ayo kenali metode ini lebih lanjut.

    Metode BLW dikenal sebagai pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) secara langsung tanpa melalui tahapan pengenalan tekstur makanan terlebih dahulu. Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Gill Rapley, seorang konsultan laktasi serta ahli pemberian makanan anak dan Tracey Murkett ,seorang penulis.

    Metode ini menerapkan otonomi sepenuhnya pada bayi untuk memimpin dan menentukan apa yang mau dimakannya, sebagaimana proses menyusui yang sepenuhnya ditentukan oleh bayi kapan waktunya.

    Awalnya, metode BLW ini digunakan di luar negeri sebagai upaya pencegahan obesitas pada bayi karena dapat melatih sendiri berapa jumlah makanan yang dibutuhkan bayi tersebut.

    Namun, penelitian terbaru menjelaskan bahwa bayi yang menggunakan metode BLW dan bayi yang menggunakan gaya makan konvensional, memiliki indeks massa tubuh yang sama.

    Sebagai bahan pertimbangan, berikut kelebihan dan kekurangan metode BLW pada proses pemberian MPASI yang bisa Anda pelajari:

    Kelebihan metode Baby Led Weaning

    • Anak menjadi lebih mandiri, karena terbiasa untuk menentukan makanan apa yang ia inginkan.
    • Perkembangan motorik bayi lebih cepat. Sebab, saat makan dengan metode BLW, koordinasi mata dan tangan bekerja dengan baik.
    • Anak tidak menjadi pemilih saat waktu makan tiba dan risiko anak susah makan akan berkurang.
    • Anak lebih dekat dengan keluarga karena waktu makan berbarengan dengan keluarga lain dengan menu yang hampir sama dan mengurangi asupan makanan instan.

    Kekurangan metode Baby Led Weaning

    • Risiko kekurangan nutrisi karena jumlah nutrisi anak tidak diketahui secara pasti dengan kondisi anak yang menentukan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.Sedangkan, di usia ini asupan makronutrien dan mikronutrien dalam makanan anak sangat penting untuk perkembangan anak. Seharusnya, dalam satu porsi makanan anak terdiri dari protein, lemak dan karbohidrat.
    • Kekurangan asupan zat besi karena anak yang menggunakan metode BLW ini akan berpotensi memiliki asupan zat besi yang kurang karena asupan makanan tidak dapat dikontrol oleh orangtua.
    • Risiko tersedak. 

    Di Indonesia sendiri, metode BLW tidak direkomendasikan. Sebab sampai saat ini, data WHO mencatat potensi kematian bayi dan balita di Indonesia akibat malnutrisi masih sangat tinggi.

    Oleh sebab itu, pemerintah menganjurkan untuk mengikuti panduan pemberian MPASI dari WHO, yaitu pemberian MPASI metode konvensional. Metode ini dilakukan dengan mengatur tekstur dan porsi makanan sesuai perkembangan usia anak, makanan yang bervariasi dan pola makan responsive feeding.

    Pola makan responsive feeding adalah sebagai berikut:

    • Memberikan makanan pada bayi secara langsung dengan cara diberikan suapan dan kontak mata langsung antara orangtua dan anak.
    • Memberikan makan kepada anak secara sabar dan perlahan.
    • Jika anak menolak makan, disarankan untuk bereksperimen dengan kombinasi makanan yang berbeda rasa dan tekstur
    • Orangtua harus paham terhadap bahasa tubuh anak dan mengenali tanda ketika anak lapar atau sudah kenyang.
    • Meminimalisasi gangguan saat makan seperti anak makan sambil menonton tv.

     

    Sebelum memutuskan metode terbaik untuk si Kecil, baik itu baby led weaning maupun metode konvensional, berkonsultasilah pada dokter anak. Pastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi agar tumbuh kembangnya berjalan baik.

     

    Source : https://www.klikdokter.com/